Posted in TUGAS

Psikologi Pendidikan

Review Materi Pembelajaran Psikologi Pendidikan

[ PERTEMUAN MINGGU PERTAMA ]

SEJARAH SINGKAT PSIKOLOGI PENDIDIKAN

     Pendidikan diartikan sebagai suatu cara mengembangkan keterampilan, kebiaksaan, dan sikap-sikap yang diharapkan dapat membuat seseorang menjadi warga negara yang baik.

       Jadi, psikologi pendidikan merupakan pengetahuan berdasarkan riset psikologis yang menyediakan serangkaian sumber-sumber untuk membantu pelaksanaan tugas sebagai seorang guru dalam proses belajar mengajar secara efektif.

       Hasil penelitian membuktikan terdapat kesamaan antara praktik pengajaran kuno dengan pengajaran modern dewasa ini.
  • Menurut Fromm, anak – anak selalu mempunyai rasa ingin tahu & TL tertentu dalam mencari pemecahan atau belajar.
  • Menurut Plato, dalam bukunya yang berjudul “Republic”, anak tidak bisa dipaksaan untuk belajar, mereka akan menemukan bentuknya sendiri.
  • Menurut Democritus, pentingnya pengaruh lingkungan & suasana rumah terhadap kepribadian.
  • Sedangkan menurut Plato & Aristoteles, mengembangkan sistem pendidikan bagi kelompok masyarakat yang berbeda – beda.

Menurut Aristoteles psikologi pendidikan terbagi menjadi 3, yaitu:

  1. Kognitif (aktivitas otak)
  2. Afektif (perasaan/emosi)
  3. Konatif (tingkah laku)

Psikologi pendidikan merupakan psikologi terapan.

Sedangkan menurut Crow & Crow, psikologi pendidikan sebagai ilmu terapan berusaha mengajarkan bagaimana proses belajar yang ilmiah & dilihat dari tingkah laku.

  • Pendidikan Informal → Relatif tidak disadari, kemudian menjadi kecakapan & sikap hidup sehari – hari. Contoh : Pendidikan di rumah, tempat ibadah, dll.
  • Pendidikan Formal → Pendidikan yang disengaja dengan tujuan, berbahan ajar yang tegas dan klasifikasi (berbadan hukum). Contoh : Sekolah SD, SMP, SMA, Perguruan Tinggi.
  • Pendidikan Non-formal → Pendidikan yang dilakukan dengan sengaja tetapi tidak memenuhi syarat pendidikan formal. Contoh : Kursus bahasa, Kursus musik, Bimbel, dll.

DEFINISI PSIKOLOGI PENDIDIKAN

   Pendidikan merupakan suatu proses individualis sosialisasi untuk mengembangkan seluruh potensi yang ada semaksimal mungkin yang mencakup segala bentuk aktifitas yang akan memudahkan bagi individu dalam kehidupan bermasyarakat.
Menurut para ahli tentang psikologi pendidikan :
  • Crow & Crow (1989) : Merupakan suatu ilmu terapan yang menjelaskan hal – hal tentang belajar secara ilmiah.
  • Barlow (1985) : Sistem yang memberikan suatu proses untuk pembelajaran seseorang diibaratkan sebagai guru atau vasilitator.
  • Tardif (1987) : Suatu bidang studi yang berhubungan dengan penerapan pengetahuan tentang perilaku manusia untuk usaha pendidikan.
  • Hendro P & Ira P (1997) : Aplikasi atau penerapan dari hasil – hasil penelitian psikologi. Merupakan suatu ilmu yang mempelajari sistematik perkembangan anak didik dalam setting pendidikan.
      Maka dari itu pendidikan menghasilkan perubahan dan keterampilan dan akan mengembangkan budaya. Selain itu pendidikan juga akan memperkaya manusia dengan ilmu-ilmu yang sudah didapatkannya.

[ PERTEMUAN MINGGU KE-2 ]

Sumbangan Psikologi Pendidikan Terhadap Teori & Praktik Pendidikan 

       Seorang pendidik harus mampu mengetahui karakteristik perkembangan individu anak didik. Individu mempunyai inner growth process, di mana perkembangan terjadi dengan sendirinya / tanpa disengaja, hal ini akan dihubungkan dengan proses pendidikan yang bertujuan mengembangkan individu dengan sengaja.

Metode – Metode dalam Psikologi Pendidikan

  1. Introspeksi : Melakukan pengamatan dalam diri sendiri (proses merenung).
  2. Obeservasi : Kegiatan melihat sesuatu di luar diri sehingga diperoleh merupakan data overt behavior (perilaku yang tampak).
  3. Metode Klinis : Digunakan untuk mengumpulkan data secara lebih rinci mengenai perilaku penyesuain dari kasus – kasus perilaku menyimpang.
    • Studi kasus klinis
    • Studi kasus perkembangan
      • Pendekatan Longitudinal : Penelitian ini dilakukan secara terus menerus dalam janga waktu tertentu pada subjek yang sama.
      • Pendekatan Cross-Sectional : Penelitian dalam satu tahapan atau satu periode waktu, hanya meneliti perkembangan dalam tahapan-tahapan tertentu.
  4. Metode Diferensial : Digunakan untuk meneliti perbedaan-perbedaan individual yang terdapat di antara anak didik.
  5. Metode Ilmiah : Prosedur yang sistematik dalam memecahkan permasalahan dan merupakan suatu pendekatan objektif yang terbuka.
  6. Metode Eksperimen : Melakukan pengontrolan secara ketat terhadap variable – variable.

[ PERTEMUAN MINGGU KE-3 ]

BAKAT & INTELEGENSI

Bakat adalah kemampuan alamiah untuk memperoleh pengetahuan keterampilan, yang relative bisa bersifat umum (misalnya, bakat intelektual umum) atau khusus (bakat akademis khusus).
Intelegensi adalah kemampuan atau kecepatan seseorang dalam berpikir, menganalsis sesuatu secara cermat dan tepat. Kecerdasan pada seseorang berbeda-beda dan bervariasi antara individu yang satu dengan yang lain.
SEJARAH INTELEGENSI
  • Wundt (Jerman), Galton (Inggris), Cattel (AS) → Memberikan tes untuk anak – anak. Hasilnya perbedaan ketepatan & kecepatan individu dalam mengerjakan tes.
  • Pra 1800-an  → tes hanya umtuk mengatur satu kemampuan.
  • Ebbig hause, 1880 → menemukan berbagai tes memori.
  • Alfred Biner & Theopile Simon → Membedakan intelegensi anak normal dengan anak lemah pikir → Tes Binet – Simoa
  • Tes Binet → Kemudian direvisi 1916 menjadi tes stanford binet.

Pengertian Imtelegensi

  • Terman → Suatu kemampuan untuk berpikir berdasarkan atas gagasan yang abstrak.
  • Binet → Intelegensi mencakup 4 hal pemahaman, hasil penemuan, arrahan, dan pembahasan.
  • Stren → Kapasitas umum dari individu yang secara sadar dapat menyesuaikan jiwa yang umum dengan masalah dan kondisi hidup baru.
  • Thorndke →  Daya kekuatan respon yang baik dari sudut pandang kebenaran dan kenyataan. Thorndake membagi intelegensi menjadi 3 aspek  yaitu : (1) Ketinggian, (2) Kekuasaan, (3) Kecepatan.

Teori-Teori Intelegensi Menurut Thorndke :

Intelegensi beroperasi pada empat tingkat trial & error yaitu :

  1. Perilaku nyata (trial & error)
  2. Perseptual (trial & error)
  3. Ideational
  4. Konseptual dijadikan acuan bagi pengukuran intelegensi

Kemampuan Konseptual menurut Thorndke :

  1. Verbal Comprehention (V)
  2. Number (N)
  3. Spatial Relation (S)
  4. Word Fluency ( W )
  5. Memory (M)
  6. Reasoning (R)

PENGUKURAN INTELEGENSI

  • Kualitatif  : Perbedaan intelegensi disebabkan karena kualitas individu yang berbeda.
  • Kuantitatif : Perbedaan intelegensi disebabkan karena terdapat perbedaan kuantitas individu.

=============

Dosen Pembimbing : Awan Jeminy Putra Entrieza

  • Nama : Arinda Ayu Larasati (11516074)
  • Kelas : 1PA05
  • Tugas : Review pembelajaran minggu pertama s/d minggu ketiga
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS GUNADARMA
Advertisements

Author:

@arindaalrst

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s